Senin, 07 Oktober 2013

DIVERSITAS POHON SEKITAR ALIRAN MATA AIR DI KAWASAN PULAU MOYO NUSA TENGGARA BARAT



 DIVERSITAS POHON SEKITAR ALIRAN MATA AIR DI KAWASAN
PULAU MOYO NUSA TENGGARA BARAT

Trimanto
Kebun Raya Purwodadi - LIPI
triman.bios08@gmail.com

Abstrak
Jenis tumbuhan di sekitar aliran mata air  di kawasan hutan Pulau Moyo berperan dalam menjaga kestabilan aliran mata air. Keberadaan tumbuhan tersebut turut berperan dalam menjaga ketersediaan air di kawasan tersebut. Aliran mata air dikawasan hutan dalam musim kemarau tetap ada dan aliran tersebut masuk dalam kawasan masyarakat. Warga memanfaatkan ketersediaaan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui jenis-jenis tumbuhan di sekitar aliran mata air di kawasan hutan Pulau Moyo. Penelitian dilakukan dengan cara metode jelajah dengan mendata setiap jenis tumbuhan yang terdapat di tepi aliran mata air tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa tercatat setidaknya ada 32 jenis pohon yang berada di kawasan aliran mata air dan rata rata berhabitus pohon besar. Jenis yang sering ditemukan adalah marga Ficus dan keluarga Moraceae. Secara keseluruhan kondisi aliran mata air di kawasan hutan tersebut adalah jernih.

Kata Kunci: Mata Air, Pulau Moyo, Diversitas

I.         PENDAHULUAN
Air merupakan benda alam yang sangat esensial bagi kehidupan manusia. Karakteristik mata air ditentukan oleh aspek hidrologis yaitu vegetasi yang terdapat didalamnya. Degradasi hutan dan lahan semakin meluas sebagai akibat penambahan jumlah penduduk yang memerlukan lahan untuk sandang, pangan, papan dan energi. Pengurangan areal hutan untuk pertanian dan konversi lahan pertanian untuk bangunan akan menurunkan resapan air hujan.  Hubungan timbal balik antara alam yang meliputi, vegetasi, tanah , air dan manusia turut berperan dalam kelestarian dari daerah aliran sungai (Dephut, 2008).
Kawasan hutan di Pulau Moyo Nusa Tenggara Barat memiliki aliran mata air yang membentuk sungai besar. Keberadaan pohon-pohon di sekitar kawasan mata air ini menarik untuk dipelajari. Nusa Tenggara merupakan biogeografi yang terletak di dalam wilayah Wallacea. Kondisi tersebut menyebabkan flora dan faunanya sangat beragam (Monk, et al. 1997). Berbagai penelitian mengungkap bahwa pohon pohon besar berperan dalam konservasi mata air. Keberadaan pohon besar ini dapat menyerap dan menyimpan air hujan dalam waktu yang lama. Tumbuhan diduga memiliki kemampuan hydraulic conductance, kemampuan tanaman dalam menyerap air dalam jumlah yang besar di malam hari untuk disebarkan ke permukaan dan selanjutnya saat pagi hari  akan diserap kembali untuk proses metabolismenya (Larcher, 1995).
Keadaan lapangan di Pulau Moyo merupakan lipatan yang beregelombang sampai berbukit dengan lereng yang tidak begitu curam. Hanya dibeberapa tempat terdapat lereng lereng yang cukup terjal. Di kawasan ini terdapat sungai yang terbentuk dari aliran mata air yang oleh masyarakat disebut dengan Brang yang berarti sungai. Beberapa sungai tersebut antara lain Brang Rea, Brang Koa, Brang Stema, Brang Surengale, Brang Sitomang, Brang Sibotok, dan Brang Sangelo. Pada daerah ini terdapat tanah-tanah datar dengan ketinggian yang berbeda beda, sehingga seolah terlihat tanah dengan ketinggian yang berbeda. Puncak tertinggi kawasan ini adalah 600 m dpl. Beberapa sungai yang bermuara menuju sampai ke laut. (Simbolon, 1973).
Kajian keragaman jenis pohon disekitar aliran sungai yang terbentuk dari mata air di Pulau Moyo menarik untuk dilakukan. Peran masyarakat terhadap pelestraian jenis pohon ikut memberikan andil dalam konservasi mata air yang oleh masyarakat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Salah satu cara yang dapat diterapkan agar aliran mata air dapat terus terjaga adalah dengan konservasi vegetatif yaitu mengkonservasi jenis pohon-pohon yang berada pada kawasan mata air (Kustamar dkk, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis pohon-pohon besar yang terdapat pada sepanjang aliran mata air di kawasan Pulau Moyo Nusa Tenggara Barat. Pendataan jenis pohon diharapkan dapat membantu untuk pelestarian jenis-jenis pohon tersebut.

II.           METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat pada bulan April 2013. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah yaitu dengan mendata jenis tumbuhan yang berhabitus pohon pada kawasan aliran mata air di Pulau Moyo. Data pohon yang diambil adalah pohon- pohon besar (diameter lebih dari 10 cm) dan berada pada tepi aliran mata air. Pembuatan herbarium diperlukan untuk identifikasi. Dokumentasi dilakukan untuk mengetahui kondisi aliran mata air dan jenis-jenis pohon yang terdapat pada kawasan tersebut. Metode wawancara digunakan untuk mengetahui pemanfaatan air oleh masyarakat dan mengetahui perananan masyarakat terhadap konservasi aliran mata air tersebut.

III.        HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Jenis tumbuhan di sekitar aliran mata air di kawasan hutan Pulau Moyo berperan dalam menjaga kelestarian aliran mata air. Keberadaan tumbuhan tersebut turut berperan dalam menjaga ketersediaan air di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa tercatat setidaknya ada 32 jenis pohon yang berada di kawasan aliran mata air dan rata rata berhabitus pohon-pohon besar dengan diameter lebih dari 30 cm. Jenis pohon besar sering ditemukan adalah marga Ficus dan keluarga Moraceae. Ficus varegata merupakan spesies yang sering di ketemukan di sepanjang tepi aliran mata air. Pada sekitar aliran juga sering ditemukan jenis jenis herba seperti Homalomena rubescens, Xanthosoma spp, dan beberapa jenis paku pakuan (Adiantum dan Pteris). Jenis herba yang diketemukan di sekitar mata air memang tidak banyak. Jenis Pohon pohon besar lebih mendominasi pada kawasan ini. Jenis-jenis pohon sepanjang aliran mata air dikawasan ini memang sangat beragam. Pulau Moyo memang pulau dengan dataran yang rendah. Jenis-jenis tumbuhan di kawasan ini merupakan jenis yang rata-rata ditemukan pada kawasan rendah kering. Jenis spesies pada kawasan mata air di dataran rendah lebih tinggi dibandingkan dengan keragaman spesies pada dataran tinggi (Sofiah dkk, 2010)

Jenis Jenis pohon-pohon yang terdapat pada kawasan sepanjang tepi aliran mata air tersebut tumbuh dengan subur. Ketersediaan air pada kawasan tersebut menyebabkan tumbuhan dapat tumbuh dengan optimal. Beberapa jenis pohon di sepanjang aliran sungai yang terbentuk dari aliran mata air berbuah lebat. Ficus variegata, Nauclea diderrichii, Ficus racemosa, Phyllanthus emblica, Calophyllum inophyllum dapat menghasilkan buah banyak disepanjang aliran mata air. Beberapa jenis buah-buahan tersebut dimanfaatkan masyarakat.
Tabel 1. Jenis Pohon di sekitar aliran mata air kawasan hutan Pulau Moyo
No
Nama spesies
Famili
1
Ficus racemosa
Moraceae
2
Ficus variegata
Moraceae
3
Anthocephalus chinensis
Rubiaceae
4
Schleichera oleosa
Sapindaceae
5
Protium javanicum
Burseraceae
6
Streblus asper
Moraceae
7
Inocarpus fagiferus
Fabaceae
8
Calophyllum inophyllum
Clusiaceae
9
Peltophorum inerme
Fabaceae
10
Psidium guajava
Myrtaceae
11
Alstonia spectabilis
Apocynaceae
12
Artocarpus altilis
Moraceae
13
Artocarpus anisophyllus
Moraceae
14
Pandanus tectorius
Pandanaceae
15
Kleinhovia hospita
Sterculiaceae
16
Sterculia foetida
Sterculiaceae
17
Mangifera indica
Anacardiaceae
18
Moringa oleifera
Moringaceae
19
Tectona grandis
Verbenaceae
20
Nauclea diderrichii
Rubiaceae
21
Ficus septica
Moraceae
22
Mallotus moritzianus
Euphorbiaceae
23
Barringtonia racemosa
Lecythidaceae
24
Ficus superba
Moraceae
25
Ceiba petandra
Bombacaceae
26
Gigantochloa atter
Poaceae
27
Pterospermum diversifolium
Sterculiaceae
28
Antiaris toxicarya
Moraceae
29
Syzygium sp
Myrtaceae
30
Phyllanthus emblica
Euphorbiaceae
31
Dysoxylum  sp
Meliaceae
32
Acmena acuminatissima
Myrtaceae
                                  
Pada marga Ficus rata rata berdiameter batang cukup besar (diatas 50 cm). Jenis Ficus merupakan tumbuhan yang memiliki perakaran yang dalam dan tipe kanopi rapat sehingga dapat mengkonservasi tanah dan air di sekitar kawasan mata air (Fiqa dkk, 2005). Alstonia spectabilis yang dikenal kayu batu dengan batang berdiameter besar juga banyak ditemukan pada kawasan ini. Kayu batu merupakan jenis pohon yang dimanfaatkan masyarakat untuk bangunan. Jenis pohon ini pada kawasan aliran air tetap dilestarikan masyarakat. Jenis bambu yang banyak terdapat pada kawasan aliran mata air adalah Gigantochloa atter yang mampu bertunas dan tumbuh dengan subur pada kawasan aliran mata air. Jenis bambu merupakan jenis tumbuhan yang bernilai ekonomi dan penting bagi pelestarian tanah dan air (Solikin, 2000). Beberapa jenis tumbuhan sengaja ditanam oleh msyarakat untuk mengurangi adanya pengikisan oleh derasnya aliran air seperti jenis tanaman budidaya yaitu Tectona grandis (jati) dan Mangifera indica (mangga). Jenis Pandanus tectorius dan Calophyllum inophyllum banyak terdapat di kawasan aliran mata air yang mendekati kawasan pantai.
Aliran mata air dikawasan hutan dalam musim kemarau tetap ada dan aliran tersebut masuk dalam kawasan masyarakat. Aliran mata air di kawasan hutan membentuk aliran sungai yang besar. Kawasan topografi hutan yang paling tinggi adalah 600 m dpl. Aliran mata air tersebut mengalir ke daratan yang lebih rendah. Di sepanjang aliran mata air terdapat pohon pohon besar dengan akar yang dan besar menjaga pengikisan tanah dari aliran air tersebut. Pada beberapa kawasan, air mengalir dengan sangat deras. Secara keseluruhan kondisi aliran mata air di kawasan hutan tersebut adalah jernih. Beberapa aliran mata air yang mengalir sepanjang tahun antara lain Brang Rea, Brang Sibaru, Brang Koa dan Brang Stema. Sungai sungai trsebut terbentuk oleh aliran mata air yang sangat deras aliranya. Keberadaan pohon-pohon besar di dalam kawasan hutan menurut masyarakat berperan dalam menyediakan aliran mata air tersebut tetap ada walaupun di musim kemarau.
Masyarakat memanfaatkan aliran mata air yang besar ini sebagai kebutuhan sehari-hari. Ketersediaan air tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat karena mereka jarang memiliki sumur. Pemanfaatan air pada kawasan tersebut memang belum optimal. Masyarakat di pulau ini tetap mempertahankan keberadaan pohon-pohon besar di sepanjang aliran mata air tersebut sebab mereka yakin bahwa pohon besar tersebut mampu menjaga ketersediaan air bersih yang meraka gunakan setiap harinya. Menurut Siswandi dkk, (2011) keraifan lokal masyarakat yang berupa nilai-nilai, etika, moral yang didalamnya mengandung larangan dan anjuran turut berperan dalam menjaga dan melestarikan mata air.


I.              KESIMPULAN
Tercatat setidaknya ada 32 jenis pohon dan yang berada pada tepi aliran mata air di Pulau Moyo Nusa Tenggara Barat. Jenis Ficus dan keluarga Moraceae merupakan jenis yang banyak diketemukan dengan habitus pohon dengan diameter batang yang besar. Kondisi aliran mata air adalah jernih dan aliran mata air tersebut membentuk sungai besar. Aliran mata air tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari sehingga warga masyarakat berusaha menjaga kelestarian dari pohon-pohon di sekitar aliran mata air dengan harapan mata air tersebut akan tetap ada di musim kemarau.

II.           DAFTAR PUSTAKA
Departmen Kehutanan. 2010. Kerangka Kerja Pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Indonesia (Amanah instruksi Presiden No.5 Tahun 2008 Tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009). Jakarta
Fiqa A.P, E Arisoesilaningsih dan Soejono. 2005. Konservasi Mata Air DAS Brantas Memanfaatkan Diversitas Flora Indonesia. Seminar Basic Science II. Unibraw. Malang
Kustamar, Parianom B., Sukowiyono G, Arniati T. 2010. Konservasi Mata Air Berbasis Partisipasi Masyarakat Di Kota Batu Jawa Timur. Dinamika Teknik Sipil. 10 (2): 144-149
Larcher W.1995. Physiological Plant Ecology. Third Edition. Springer. Austria.
Monk, K. A., V. De Freter, G. Reksodihardjo – Lilley. 1997. The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku (The Ecology of Indonesia Series Volume V). Periplus Edition. Singapore.
Simbolon. 1973. Laporan Penataan Batas Suaka Marga Satwa Pulau Moyo. Direktorat Jendral Kehutanan. Brigade VIII Planologi Kehutanan Nusa Tenggara.
Siswandi, Taruna T, Purnaweni H. 2011. Kearifan Lokal dalam Melestarikan Mata Air (Studi Kasus di Desa Purwogondo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal). Jurnal Ilmu Lingkungan. 9(2):63-68
Sofiah S. dan Fika A.B. 2010. Jenis-jenis Pohon di Sekitar Mata Air Dataran Tinggi dan Rendah (Studi Kasus Kabupaten Malang). Jurnal Berkala Penelitian Hayati Edisi Khusus : 4A (1-3).
Solikin 2000. Peranan Konservasi Flora dalam Pelestarian Sumber Daya Air di Indonesia. Jurnal Natural 4(2):117-123
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar